Pelajarwajo.com – Meningkatkan kualitas pendidikan bukan sekadar membangun gedung, tetapi juga memastikan setiap fasilitas yang ada layak, aman, dan mendukung kenyamanan belajar. Inilah yang menjadi sorotan tajam Bupati Wajo, H. Andi Rosman, S.Sos., MM, ketika melakukan inspeksi langsung ke Sekolah Rakyat Terintegrasi 19 Wajo. Alih-alih puas dengan pencapaian pembangunan, ia justru menunjukkan ekspresi kecewa mendalam terhadap kondisi nyata yang ditemuinya.
Sorotan Utama Kekecewaan Bupati
Saat melakukan pengecekan, Bupati Rosman menemukan beberapa masalah serius pada fasilitas sekolah:
- Akses pintu asrama hanya tersedia satu jalur keluar-masuk, yang dinilai sangat berisiko terhadap keselamatan penghuni.
- Kasur yang tipis dan tidak layak bagi anak-anak untuk beristirahat dengan nyaman.
- WC yang jauh dari standar kebersihan, menimbulkan kesan abai terhadap kesehatan siswa.
Dengan nada tegas, ia menegur pelaksana pembangunan. Menurutnya, pendidikan seharusnya memberikan rasa aman, bukan menambah kekhawatiran.
“Kalau terjadi apa-apa, bagaimana nasib anak-anak di dalam? Ini jelas tidak bisa diterima,” ujar Rosman lantang.
Sekolah Rakyat: Visi, Harapan, dan Kenyataan
Sekolah Rakyat dibentuk bukan hanya untuk kalangan kurang mampu, tetapi sebagai ruang alternatif pendidikan bagi siapa saja yang ingin melanjutkan sekolah. Program ini mencakup:
- Jenjang SD, SMP, hingga SMA
- Penguatan karakter dan akademik dasar
- Pembinaan disiplin dan kepribadian
Harapannya, Sekolah Rakyat mampu menekan angka putus sekolah dan membuka akses pendidikan yang lebih luas di Kabupaten Wajo.
Namun, kenyataan di lapangan memperlihatkan ketidaksesuaian antara visi dan implementasi. Alih-alih menjadi tempat belajar yang bermartabat, fasilitas yang minim justru berpotensi menghambat kualitas pendidikan.
Mengapa Fasilitas Pendidikan Itu Penting?
Fasilitas sekolah bukan sekadar pelengkap, melainkan pondasi utama terciptanya suasana belajar yang sehat dan aman. Ada beberapa alasan penting:
- Keamanan: Pintu keluar yang memadai dapat mencegah risiko fatal saat keadaan darurat.
- Kesehatan: Sanitasi yang buruk berisiko menimbulkan penyakit menular.
- Kenyamanan: Kasur yang layak membuat siswa beristirahat optimal sehingga siap belajar keesokan harinya.
- Motivasi: Lingkungan yang baik meningkatkan semangat siswa untuk belajar lebih giat.
Ketidakseriusan dalam memenuhi hal-hal dasar ini sama saja dengan mengorbankan masa depan generasi muda.
Teguran Bupati: Alarm untuk Perubahan
Teguran keras Bupati Wajo seharusnya menjadi alarm penting bagi para pelaksana pembangunan agar:
- Segera melakukan pembenahan fasilitas.
- Menyusun standar kualitas pembangunan sekolah agar tidak mengulang kesalahan yang sama.
- Melibatkan pengawasan ketat dari pemerintah daerah dalam setiap tahap pembangunan.
Kelalaian kecil dalam pembangunan sekolah bisa berujung pada bencana besar. Apalagi, yang dipertaruhkan adalah keselamatan anak-anak bangsa.
Harapan ke Depan: Sekolah Rakyat yang Benar-Benar “Rakyat”
Program Sekolah Rakyat sejatinya merupakan langkah visioner Pemkab Wajo. Namun, agar tujuan mulia ini benar-benar tercapai, perlu langkah nyata:
- Perbaikan menyeluruh fasilitas agar layak dan manusiawi.
- Anggaran yang transparan dengan pengawasan publik.
- Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan swasta untuk mendukung sarana prasarana pendidikan.
- Penanaman nilai karakter dan kedisiplinan sejalan dengan fasilitas yang mendukung.
Dengan komitmen tersebut, Sekolah Rakyat bisa menjadi contoh sukses program pendidikan alternatif di Sulawesi Selatan, bukan sekadar proyek pembangunan yang gagal menjawab kebutuhan anak-anak.
Kesimpulan
Kekecewaan Bupati Wajo harus dipahami sebagai teguran serius dan momentum introspeksi. Pendidikan bukan hanya soal angka partisipasi sekolah, tetapi juga kualitas lingkungan belajar. Jika Sekolah Rakyat ingin benar-benar menjadi rumah pendidikan bagi semua, maka pemerintah, pelaksana proyek, dan masyarakat harus sama-sama menjaga agar setiap jengkal ruang belajar mencerminkan keselamatan, kenyamanan, dan martabat anak bangsa.











