Pelajarwajo.com – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) seharusnya menjadi momentum positif bagi siswa baru dalam beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Namun, praktik perpeloncoan yang kerap terjadi di masa ini telah lama mencoreng makna MPLS sebenarnya.
Pada tahun 2025, pemerintah mengambil langkah konkret dengan menegaskan bahwa segala bentuk perpeloncoan dalam MPLS akan dikenakan sanksi peringatan kepada pihak sekolah.
Apa Itu Perpeloncoan dan Mengapa Harus Dihentikan?
Perpeloncoan mengacu pada perlakuan kasar, merendahkan, atau mempermalukan siswa baru oleh siswa senior atau bahkan pihak sekolah, sering kali berdalih sebagai “tradisi” pengenalan. Bentuknya bisa fisik, verbal, psikologis, bahkan sampai pelecehan. Aktivitas ini telah terbukti meninggalkan trauma mendalam dan berdampak negatif terhadap semangat belajar siswa.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa perpeloncoan dalam bentuk apapun tidak akan ditoleransi dalam pelaksanaan MPLS 2025. Pemerintah ingin menciptakan budaya pendidikan yang ramah, inklusif, dan mendukung kesehatan mental peserta didik.
Peran Aktif Guru dan Dinas Pendidikan
Untuk memastikan MPLS berjalan sesuai prinsip ramah anak, Menteri Mu’ti mengungkapkan bahwa seluruh kegiatan MPLS wajib mendapat pendampingan langsung dari guru. Selain itu, pelaksanaannya akan diawasi ketat oleh Dinas Pendidikan daerah, termasuk mekanisme pelaporan bila terjadi pelanggaran.
“Pelaksanaan MPLS harus diawasi ketat oleh kepala sekolah dan Dinas Pendidikan. Tradisi memplonco junior harus dihilangkan sepenuhnya,” tegas Mu’ti.
Sekolah Harus Menjadi Rumah Kedua yang Aman
MPLS 2025 dirancang bukan hanya sebagai ajang pengenalan, tetapi sebagai langkah awal membangun hubungan yang sehat antara siswa, guru, dan lingkungan sekolah. Mu’ti menekankan bahwa sekolah harus menjadi rumah kedua yang menyenangkan, bukan tempat penuh tekanan.
“Semua bentuk perundungan—verbal, fisik, rasial, bahkan teologis—harus dihindari. Sekolah harus jadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi anak-anak,” ujar Mu’ti dalam acara peluncuran MPLS Ramah.
Sinergi untuk Mengakhiri Budaya Kekerasan
Menumpas perpeloncoan bukan hanya tanggung jawab pemerintah pusat, tetapi juga sekolah, tenaga pendidik, dan orang tua. Sekolah perlu menanamkan nilai-nilai positif dan membekali siswa dengan empati serta respek terhadap sesama.
Guru memiliki peran strategis sebagai pengawas langsung yang harus peka terhadap tanda-tanda kekerasan. Sementara orang tua didorong untuk terlibat aktif, dengan membangun komunikasi terbuka dengan anak dan pihak sekolah selama masa MPLS berlangsung.
MPLS 2025: Fokus pada Literasi, Numerasi, dan Penguatan Karakter
Selain pengenalan lingkungan sekolah, MPLS tahun ini juga akan mencakup asesmen literasi dan numerasi sebagai dasar pemetaan kemampuan siswa baru. Hal ini bertujuan untuk mempercepat penyesuaian kurikulum serta mendeteksi lebih awal kebutuhan belajar siswa.
Program ini juga disisipi materi penguatan karakter, seperti bahaya narkoba, perjudian daring (judol), dan pentingnya toleransi antar siswa. Pemerintah ingin membentuk generasi pelajar yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara moral.
Sanksi Bukan Tujuan Akhir, Tapi Langkah Edukatif
Mu’ti menegaskan bahwa sanksi berupa peringatan adalah tindakan korektif, bukan semata-mata hukuman. Tujuannya adalah membenahi budaya pendidikan dan memberikan kesempatan kepada sekolah untuk melakukan perbaikan.
“Sanksi sih sebenarnya tidak perlu ya, tapi lebih kepada mungkin ya semacam peringatan sajalah,” jelas Mu’ti.
Langkah ini menunjukkan pendekatan humanis pemerintah dalam menangani masalah perpeloncoan—tegas namun tetap memberikan ruang edukasi dan perbaikan.
Penutup: MPLS Ramah Anak, Investasi Jangka Panjang Pendidikan
Transformasi MPLS 2025 menjadi ajang ramah anak adalah sinyal kuat bahwa Indonesia tengah serius membangun fondasi pendidikan yang sehat dan inklusif. Menghapus perpeloncoan bukan hanya soal mengubah tradisi, tetapi menyelamatkan masa depan generasi muda agar tumbuh dalam lingkungan yang aman, mendukung, dan penuh semangat belajar.











