Pelajarwajo.com – Sebelum nama-nama cemerlang Indonesia ramai menghiasi daftar alumni universitas bergengsi dunia, satu orang sudah lebih dulu menorehkan sejarah. Prof R. Kwari Setjadibrata, dr. SpA — Rektor ke-5 Universitas Airlangga (Unair) — adalah orang Indonesia pertama yang berkuliah di Harvard University. Sosoknya mungkin belum sepopuler tokoh-tokoh nasional lainnya, tapi perjalanan hidupnya melampaui zamannya dan layak untuk dikenal lebih luas.
Dokter di Era Kemerdekaan yang Menjadi Pelopor
Kwari Setjadibrata lahir di Serang, 21 Januari 1920. Ia menempuh pendidikan kedokteran dan berhasil lulus pada 1948 dari kampus yang kini dikenal sebagai Universitas Indonesia (UI). Di masa-masa setelah kemerdekaan, dokter masih tergolong profesi yang langka dan sangat dihormati. Saat itu, tokoh-tokoh terkenal lebih banyak berasal dari kalangan ahli hukum, pengacara, dan insinyur — sehingga kehadiran dr. Kwari di dunia medis menjadikannya sosok yang menonjol di kalangan profesinya.
Ia bukan hanya dokter biasa. Kwari adalah seseorang yang sejak awal memiliki visi besar: terus belajar, terus berkembang, dan membawa ilmu terbaik kembali ke tanah air.
Melangkah ke Harvard: Beasiswa dan Spesialisasi di Amerika
Titik balik besar dalam hidup Kwari terjadi pada 1954, ketika ia memutuskan untuk mengambil Spesialis Ilmu Penyakit Anak sekaligus melanjutkan studi ke Amerika Serikat. Tujuannya bukan sembarang kampus — ia diterima di Harvard School of Public Health, salah satu institusi kesehatan paling prestisius di dunia.
Kepergiannya ke Amerika didukung oleh dua lembaga besar: Foreign Office Affairs dan Eisenhower Fellowship. Dukungan ini bukan hal yang mudah diraih, terlebih di era 1950-an ketika akses pendidikan internasional bagi orang Indonesia masih sangat terbatas.
Selama dua tahun, Kwari menyelesaikan studinya di sana. Ia menyerap ilmu, membangun jaringan internasional, dan mempersiapkan diri untuk membawa semua itu pulang ke Indonesia.
Kembali ke Tanah Air: Karier Akademik yang Terus Menanjak
Setelah kembali ke Indonesia pada 1956, dr. Kwari langsung terjun ke dunia akademik. Ia ditetapkan sebagai Asisten Ahli Golongan FII di Fakultas Kedokteran (FK) UI. Empat tahun berselang, ia naik jabatan menjadi Kepala Golongan FVI di institusi yang sama.
Langkahnya tak berhenti di situ. Pada 1964, Kwari resmi menyandang gelar Guru Besar di Fakultas Kedokteran Unair — sebuah pencapaian yang mempertegas posisinya sebagai salah satu akademisi terkemuka di Indonesia kala itu.
Setelah berpindah tugas ke Unair, ia dipercaya menjabat sebagai Pembantu Rektor Khusus Bidang Pembangunan selama periode 1969 hingga 1974. Peran ini mencerminkan kepercayaan besar yang diberikan institusi kepadanya — bukan hanya sebagai ilmuwan, tetapi juga sebagai pemimpin yang mampu mendorong kemajuan.
Dari Kursi MPRS hingga Puncak Karier sebagai Rektor
Kontribusi Prof Kwari tidak terbatas pada dunia kampus. Di tengah kesibukannya sebagai akademisi, ia juga sempat dipercaya menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) di Jakarta pada 1968 hingga 1971. Ini adalah bukti bahwa ia diakui bukan hanya di lingkaran medis dan pendidikan, tapi juga di ranah kepemimpinan nasional.
Puncak dari perjalanan panjangnya tiba pada 1974, ketika Prof Kwari resmi dilantik sebagai Rektor ke-5 Universitas Airlangga. Jabatan bergengsi ini menjadi mahkota dari karier yang dibangun dengan penuh dedikasi selama puluhan tahun.
Namun, takdir berkata lain. Masa jabatannya sebagai rektor harus berakhir lebih cepat dari yang diharapkan. Pada 1975, Prof Kwari meninggal dunia akibat masalah kesehatan. Meski masa jabatannya relatif singkat, warisan intelektual dan kontribusinya terhadap dunia pendidikan Indonesia tetap hidup hingga hari ini.
Harvard School of Public Health Kini Berganti Nama
Bagi kamu yang penasaran — institusi tempat Prof Kwari menimba ilmu kini tidak lagi bernama Harvard School of Public Health. Sejak 8 September 2014, nama tersebut resmi berganti menjadi Harvard T.H. Chan School of Public Health.
Perubahan nama ini muncul dari sumbangan terbesar yang pernah diterima Harvard sepanjang sejarahnya, berasal dari keluarga Chan melalui Yayasan Morningside senilai sekitar Rp 5,9 triliun. Nama baru itu adalah bentuk penghormatan kepada keluarga dermawan yang telah berkontribusi luar biasa bagi perkembangan institusi tersebut.
Warisan yang Melampaui Jabatan
Prof R. Kwari Setjadibrata bukan sekadar nama dalam lembar sejarah Unair. Ia adalah simbol bahwa orang Indonesia mampu bersaing dan belajar di institusi terbaik dunia, bahkan di era yang penuh keterbatasan sekalipun.
Perjalanannya — dari dokter muda lulusan kampus lokal, menembus Harvard, membangun karier akademik yang gemilang, hingga memimpin salah satu universitas terkemuka di Indonesia — adalah bukti nyata bahwa ambisi, kerja keras, dan semangat belajar tidak mengenal batas geografis maupun zaman.
Kisahnya layak diingat, bukan hanya sebagai catatan historis, tapi sebagai inspirasi bagi generasi penerus yang ingin membawa nama Indonesia lebih jauh ke panggung dunia.
FAQ
Siapa orang Indonesia pertama yang kuliah di Harvard University?
Orang Indonesia pertama yang kuliah di Harvard adalah Prof R. Kwari Setjadibrata, dr. SpA. Ia menempuh studi di Harvard School of Public Health pada 1954, didukung oleh Foreign Office Affairs dan Eisenhower Fellowship, dan kemudian menjabat sebagai Rektor ke-5 Universitas Airlangga.
Apa yang dipelajari Prof Kwari Setjadibrata di Harvard?
Prof Kwari mengambil Spesialis Ilmu Penyakit Anak sekaligus studi di Harvard School of Public Health. Masa studinya berlangsung selama dua tahun, yakni dari 1954 hingga 1956, sebelum ia kembali ke Indonesia dan melanjutkan karier akademiknya di Universitas Indonesia dan Unair.
Kapan Prof Kwari Setjadibrata menjadi Rektor Unair?
Prof Kwari Setjadibrata resmi menjabat sebagai Rektor ke-5 Universitas Airlangga (Unair) pada tahun 1974. Sayangnya, masa jabatannya tidak berlangsung lama karena beliau wafat pada tahun 1975 akibat masalah kesehatan.
Apa nama sekarang dari Harvard School of Public Health?
Sejak 8 September 2014, Harvard School of Public Health berganti nama menjadi Harvard T.H. Chan School of Public Health. Perubahan nama ini merupakan penghargaan atas sumbangan besar dari keluarga Chan melalui Yayasan Morningside senilai sekitar Rp 5,9 triliun.
Apa saja pencapaian Prof Kwari Setjadibrata selain kuliah di Harvard?
Prof Kwari memiliki sederet pencapaian luar biasa: menjadi Guru Besar FK Unair (1964), menjabat anggota MPRS (1968–1971), menjadi Pembantu Rektor Khusus Bidang Pembangunan Unair (1969–1974), dan akhirnya menjadi Rektor ke-5 Unair pada 1974. Ia dikenal sebagai pionir di kalangan dokter Indonesia pascakemerdekaan.
Seorang Pelajar dari Wajo yang suka menulis artikel di blog untuk berbagi informasi, tips, dan pengalaman seputar dunia pendidikan yang relevan dan bermanfaat bagi pelajar di Indonesia











