BeritaInternasional

Pendidikan Iran Lumpuh di Tengah Serangan Israel-AS

Muh Fikal Nasir
57
×

Pendidikan Iran Lumpuh di Tengah Serangan Israel-AS

Share this article
Pendidikan Iran Lumpuh di Tengah Serangan Israel-AS
Foto: BBC World

Pelajarwajo.com – Sektor pendidikan di Iran tengah mengalami tekanan berat akibat konflik bersenjata yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat. Pada Sabtu, 28 Februari 2026, sebuah rudal Israel menghantam SD putri di kota Minab, Provinsi Hormozgan, menewaskan setidaknya 40 orang. Tragedi ini menjadi cermin nyata betapa pendidikan di Iran telah lama berjuang di tengah krisis geopolitik yang berkepanjangan.

Sekolah Jadi Sasaran: Tragedi Minab yang Mengguncang

Sebelum serangan pada 28 Februari 2026, Iran sudah lebih dulu menghadapi tekanan berlapis — mulai dari sanksi ekonomi hingga ketegangan geopolitik yang menggerus hampir semua sektor kehidupan. Ketika eskalasi militer akhirnya pecah, dunia pendidikan menjadi salah satu korban paling nyata.

Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa jumlah korban jiwa dari insiden penembakan rudal ke SD putri Minab telah mencapai 40 orang. Data ini dikonfirmasi oleh kantor berita AFP. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman bagi anak-anak justru berubah menjadi lokasi tragedi yang menyayat hati.

Serangan ini bukan hanya soal kehilangan nyawa. Ia menjadi simbol bagaimana konflik bersenjata merenggut masa depan generasi muda yang seharusnya dilindungi.

Sebelum Rudal: Pendidikan Iran Sudah Dalam Tekanan

Jauh sebelum serangan 28 Februari, kondisi pendidikan di Iran sudah menunjukkan tanda-tanda kritis. China Global Television Network (CGTN) pada 12 Februari 2026 merekam kehidupan sehari-hari di sektor pendidikan Iran — dan gambarannya jauh dari menggembirakan.

Guru, murid, dan orang tua murid sama-sama hidup dalam kecemasan mendalam tentang masa depan. Sekolah-sekolah kerap buka-tutup secara tidak menentu, dipicu oleh dua faktor utama: pemadaman listrik dan polusi udara yang parah. Siklus ketidakpastian ini menciptakan kondisi belajar yang sangat tidak kondusif.

Guru matematika bernama Mahmoodian menggambarkan betapa sulitnya situasi ini. Setiap kali ritme belajar mulai terbentuk, gangguan baru datang dan menghancurkannya kembali. “Bolak-balik ini membuat siswa sulit beradaptasi. Dan itu hanya salah satu dampak negatif dari penutupan sekolah,” ujarnya.

Baca juga:  Jurusan Teknik Kimia: Membangun Karier di Dunia Teknologi

Pembelajaran Daring Bukan Solusi: Tantangan PJJ di Iran

Saat sekolah fisik tutup, pembelajaran jarak jauh (PJJ) dijadikan alternatif. Namun solusi ini pun tidak berjalan mulus. Para guru melaporkan bahwa siswa memang hadir di depan layar, tetapi secara emosional mereka justru jauh dan sulit dijangkau.

Mahmoodian menegaskan bahwa metode daring tidak bisa menggantikan tatap muka, terutama untuk siswa yang membutuhkan pengawasan langsung agar tetap fokus. Tantangan ini diperparah oleh infrastruktur digital yang tidak memadai.

Lebih jauh lagi, pemerintah Iran sempat memutus akses internet pada Januari 2026 — menyusul aksi demonstrasi besar-besaran yang terjadi di dalam negeri. Kepala sekolah Mohammad Ali Kazimi mengungkapkan bahwa pemutusan internet secara terus-menerus menjadi hambatan nyata dalam penyelenggaraan kelas virtual. “Ada gangguan internet, sehingga tidak dapat memenuhi tujuan pendidikan kami,” katanya.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa krisis pendidikan di Iran bukan sekadar soal bom atau rudal — melainkan juga soal koneksi internet yang putus, listrik yang padam, dan ruang kelas yang kosong karena ketakutan.

Beban Siswa: Stres, Ujian Menumpuk, dan Ketertinggalan Materi

Para siswa di Iran menanggung beban yang jauh melampaui usianya. Salah seorang siswa bernama Shahrooz menceritakan betapa stresnya ia ketika harus menghadapi tiga hingga empat ujian dalam satu hari — dampak langsung dari terlalu banyak hari sekolah yang hilang.

Guru pun terpaksa memacu materi dengan kecepatan jauh di atas normal demi mengejar ketertinggalan. Akibatnya, pemahaman siswa menjadi dangkal, terutama untuk mata pelajaran yang membutuhkan pendalaman seperti matematika.

Siswa lain bernama Amir Mohammad mengaku kesulitan mengikuti pelajaran matematika, terutama saat ujian akhir. Ia merasa guru pun sudah berusaha keras, tetapi situasi yang tidak menentu membuat segalanya menjadi lebih berat.

Gambaran ini menunjukkan bahwa dampak psikologis dari konflik terhadap dunia pendidikan sama nyatanya dengan dampak fisik — dan mungkin berlangsung jauh lebih lama.

Baca juga:  7 Kesalahan Umum dalam Menulis Skripsi Anda

Di Tengah Krisis, Iran Tetap Catatkan Prestasi Pendidikan

Meski dihimpit berbagai tekanan, Iran tidak sepenuhnya berhenti berprestasi di bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan. Situs berita pemerintah Iran, IRNA, tetap melaporkan sejumlah pencapaian yang patut dicatat.

Pada 24 Februari 2026, seorang siswi SD berusia delapan tahun bernama Avan Jalilian berhasil meraih peringkat kedua di seluruh dunia dalam kontes poster global yang diselenggarakan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO). Prestasi yang luar biasa di tengah kondisi yang jauh dari ideal.

Selain itu, IRNA melaporkan bahwa Institut Royan — yang berafiliasi dengan Pusat Akademik untuk Pendidikan, Kebudayaan, dan Penelitian (ACECR) — akan menyelenggarakan Kongres Kedokteran Reproduksi Internasional ke-27 sekaligus Kongres Teknologi Sel Punca Internasional ke-22 di Teheran pada 2–4 September 2026. Acara ini akan digelar di Aula Abū Rayḥān, Universitas Shahid Beheshti, dan diharapkan kembali menarik para ilmuwan dari berbagai penjuru dunia.

Rektor Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST), Mahmoud Shokrieh, juga menegaskan komitmen perluasan kerja sama akademik dengan universitas-universitas Jepang saat menerima kunjungan Duta Besar Jepang untuk Teheran, Tamaki Tsukada, pada Januari 2026.

Penutup

Pendidikan di Iran berada di persimpangan yang sangat berat. Di satu sisi, konflik bersenjata yang dipicu oleh agresi Israel dan keterlibatan AS telah menghancurkan fasilitas pendidikan, mengganggu proses belajar, dan menciptakan trauma psikologis yang mendalam pada siswa maupun guru. Di sisi lain, semangat untuk terus belajar dan berprestasi belum sepenuhnya padam.

Pertanyaannya kini bukan hanya soal apakah sekolah-sekolah Iran bisa bertahan — tetapi seberapa dalam luka yang akan ditinggalkan konflik ini pada satu generasi pelajar yang tumbuh di tengah perang. Pantau terus perkembangan situasi ini untuk memahami konsekuensi jangka panjang konflik terhadap masa depan pendidikan di kawasan Timur Tengah.

Baca juga:  Phil Foden Kembali Gabung Timnas Inggris Jelang 16 Besar Piala Eropa 2024

FAQ Section (People Also Ask)

Apa dampak serangan Israel terhadap sekolah di Iran?

Serangan Israel pada 28 Februari 2026 menghantam sebuah SD putri di kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan. Insiden ini menewaskan sedikitnya 40 orang. Selain korban jiwa, serangan tersebut memperparah krisis pendidikan yang sudah berlangsung sebelumnya akibat tekanan geopolitik dan ekonomi.

Apakah sekolah di Iran masih buka saat konflik berlangsung?

Sekolah di Iran kerap buka-tutup secara tidak menentu, dipicu oleh pemadaman listrik, polusi udara, dan situasi keamanan. Ketidakstabilan ini membuat proses belajar terganggu parah dan menyulitkan siswa maupun guru untuk menjaga konsistensi pembelajaran.

Bagaimana kondisi pembelajaran jarak jauh di Iran saat krisis?

Pembelajaran jarak jauh di Iran tidak berjalan efektif. Pemerintah Iran sempat memutus akses internet pada Januari 2026 menyusul gelombang demonstrasi. Kepala sekolah melaporkan gangguan koneksi terus-menerus yang membuat kelas virtual tidak bisa berjalan optimal dan tujuan pendidikan sulit tercapai.

Apa yang dialami siswa Iran akibat krisis pendidikan ini?

Siswa Iran mengalami tekanan besar, termasuk harus menghadapi tiga hingga empat ujian dalam satu hari karena banyaknya hari sekolah yang hilang. Ketertinggalan materi, khususnya pada pelajaran sulit seperti matematika, menciptakan stres akademik yang berat di kalangan pelajar.

Apakah Iran masih berprestasi di bidang pendidikan meski dalam kondisi perang?

Ya. Meski dilanda krisis, Iran tetap mencatatkan prestasi. Siswi SD Avan Jalilian (8 tahun) meraih peringkat dua dunia dalam kontes poster FAO pada Februari 2026. Universitas-universitas Iran juga masih aktif menjalin kerja sama internasional dan merencanakan kongres ilmiah bertaraf global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *